Jember (Antara Jatim) - Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengidentifikasi akar persoalan yang menyebakan kerusuhan di wilayah Puger, kabupaten setempat.

"Ada tiga faktor yang diduga menjadi penyebab kerusuhan di Puger. Ketiganya saling berkaitan, dan tidak berdiri sendiri," kata Ketua MUI Jember Prof Halim Subahar, Senin.

Menurut dia, akar persoalan pertama adalah perselisihan kedua kelompok Habib Ali dan Ustad Fauzi yang memiliki faham keagamaan berbeda, dan sudah terjadi sejak lama.

Kemudian yang kedua, penyelenggaraan karnaval yang tidak diizinkan aparat kepolisian, hingga menyebabkan tindak pidana perusakan dan penganiayaan.

Selanjutnya yang ketiga, adanya kemungkinan provokasi dari pihak luar.

"Awalnya kami menilai kerusuhan di Puger tidak berkaitan dengan persoalan agama, namun setelah dikaji secara seksama, ternyata kerusuhan itu masih memiliki unsur perselisihan kedua kelompok yang berbeda faham keagamaannya," katanya.

Karena itu, kata dia, MUI melakukan identifikasi terhadap akar persoalan untuk mendapatkan solusi, agar perdamaian antara kedua kelompok tersebut tidak berlangsung sesaat saja dan tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

"Tiga akar persoalan itu harus diselesaikan hingga tuntas dan secara komprehensif, agar kedua kelompok bisa damai selamanya," ucap pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember itu.

Ia mengimbau tokoh-tokoh masyarakat dan para ulama melakukan pembinaan terhadap jamaahnya secara berkesinambungan, sehingga antara sesama umat muslim saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

Sementara itu, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi takziah kepada keluarga almarhum korban kerusuhan Puger Eko Mardi Santoso dan meminta semua pihak menjaga ketenangan masyarakat.

"Saya berharap kerusuhan yang terjadi di Puger jangan sampai terulang kembali, sehingga semua pihak harus mencari akar persoalannya untuk memberikan solusi kedua belah pihak," tuturnya.

Ia meminta para ulama meningkatkan penguatan di bidang dakwah dan jangan ber-NU secara kultural saja karena peristiwa yang terjadi di Puger tidak murni konflik ideologi, namun dibarengi dengan faktor sosial dan konflik kepentingan.

Sebelumnya, sekelompok orang menyerbu Ponpes Darus Solihin asuhan Habib Ali dan merusak sejumlah fasilitas pesantren tersebut pada Rabu (11/9) siang, bahkan puluhan unit sepeda motor yang diparkir di halaman pesantren dirusak dan dibakar.

Perusakan terjadi saat seluruh pengurus pesantren melakukan pawai karnaval untuk memperingati HUT ke-68 Kemerdekaan Republik Indonesia, padahal aparat kepolisian sudah melarang karnaval itu.

Kemudian sejumlah orang melakukan aksi balas dendam atas perusakan pesantren tersebut dengan melakukan penganiayaan terhadap warga setempat Eko Mardi Santoso (45) hingga tewas.(*)